Tanjungpinang, mejaredaksi – Rencana penghentian penerbangan maskapai Garuda Indonesia di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tak hanya berdampak pada sisi operasional, tetapi juga menjadi momentum evaluasi sekaligus peluang membuka jalur penerbangan baru, khususnya internasional.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan, mengungkapkan bahwa selama ini pergerakan pesawat menjadi tulang punggung utama pendapatan bandara. Oleh karena itu, berhentinya layanan Garuda Indonesia dipastikan akan memengaruhi kinerja finansial.
“Dampaknya tentu ada, terutama dari sisi pendapatan. Selama ini pemasukan kami masih sangat bergantung pada aktivitas pesawat yang datang dan berangkat,” kata Setiadi, Minggu (25/1/2025).
Meski demikian, ia memastikan bahwa kualitas pelayanan kepada penumpang tetap terjaga. Kekosongan rute yang ditinggalkan Garuda akan digantikan oleh Citilink, yang direncanakan melayani penerbangan Tanjungpinang–Jakarta setiap hari.
“Dari sisi pelayanan tidak ada penurunan. Masyarakat tetap mendapatkan akses penerbangan harian ke Jakarta,” tegasnya.
Lebih jauh, Setiadi menilai kehadiran maskapai nasional seperti Garuda memiliki nilai simbolis bagi daerah. Sebab, tidak semua kota memiliki akses langsung dari maskapai pelat merah tersebut, sehingga keberadaannya kerap menjadi kebanggaan tersendiri.
“Memang secara citra, daerah yang dilayani Garuda memiliki kebanggaan. Namun hal itu tidak berkaitan dengan status internasional bandara,” jelasnya.
Saat ini, meski telah menyandang status bandara internasional, Bandara RHF belum melayani satu pun rute luar negeri. Namun, peluang pembukaan jalur internasional masih terbuka lebar, khususnya rute Tanjungpinang–Kuala Lumpur.
“Pemerintah daerah sedang melakukan pendekatan dengan AirAsia. Mudah-mudahan bisa terealisasi karena tentu akan memberi dampak ekonomi dan pariwisata yang besar bagi masyarakat,” pungkas Setiadi.









