Tanjungpinang, mejaredaksi – Lonjakan harga daging sapi segar di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, semakin terasa selama Ramadan 1447 H/2026. Dari sebelumnya Rp140 ribu per kilogram, kini harga di pasaran sudah menyentuh Rp160 ribu per kilogram dan diprediksi masih akan naik menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama menjelang momen Lebaran yang identik dengan lonjakan konsumsi daging. Para pedagang bahkan telah bersepakat menaikkan harga hingga kisaran Rp170 ribu per kilogram untuk menutup biaya operasional yang terus membengkak.
Kepala Bidang Stabilisasi Harga Disperdagin Tanjungpinang, Riyanto, mengakui kenaikan tersebut tidak terelakkan. Menurutnya, harga sapi dari daerah asal mengalami peningkatan signifikan, terutama pasokan dari Lampung.
“Sekarang sudah Rp160 ribu per kilogram. Kami sudah berkomunikasi dengan para pedagang sapi,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Hasil koordinasi menunjukkan, kenaikan harga dipicu oleh mahalnya harga sapi hidup di daerah pemasok serta tingginya ongkos kirim antarpulau. Beban distribusi yang besar membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual agar tidak merugi.
“Harga sapi dari Lampung naik, ditambah lagi ongkos kirimnya juga tinggi,” jelas Riyanto.
Hingga kini, Disperdagin Tanjungpinang masih menjajaki komunikasi dengan Pemerintah Provinsi untuk mencari langkah konkret sebelum Lebaran tiba. Harapannya, harga tetap terkendali agar daya beli masyarakat tidak tergerus lebih dalam.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Tanjungpinang-Bintan, Thamrin, menilai harga acuan Rp140 ribu per kilogram yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sudah tidak relevan dengan kondisi riil di lapangan.
Menurutnya, menjual di harga tersebut hampir dipastikan merugi. Bahkan pada harga Rp170 ribu per kilogram pun, margin keuntungan masih sangat tipis.
“Kalau Rp170 ribu saja untungnya tipis. Ongkosnya besar, sementara itu tidak dihitung dalam penetapan harga,” katanya.
Saat ini, stok sapi di kandangnya tersisa belasan ekor dan akan segera ditambah 11 ekor dari Lampung. Namun, ia berharap ada jaminan kebijakan harga agar pedagang tidak terus berada dalam posisi tertekan.
Apalagi, penjualan jeroan yang biasanya membantu menutup modal kini tidak seramai sebelumnya. Dampaknya, beban modal yang harus ditanggung pedagang semakin besar.
Dengan tren permintaan yang biasanya melonjak menjelang Idul Fitri, harga daging sapi di Tanjungpinang diperkirakan masih berpotensi naik jika tidak ada intervensi pasokan atau kebijakan subsidi distribusi.












