Tanjungpinang, mejaredaksi – Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus dikebut. Hingga awal Februari 2026, progres pembangunan fasilitas penunjang program Makan Bergizi (MBG) ini telah mencapai 85 persen dan ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat.
Percepatan pembangunan tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat di daerah terpencil tidak tertinggal dalam pemenuhan gizi dasar. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, mengatakan pemerintah provinsi telah menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah kabupaten/kota serta Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Nyanyang, fokus utama saat ini adalah menyelesaikan sisa 15 persen pembangunan SPPG di wilayah terpencil agar dapat beroperasi pada Februari 2026. Proses appraisal proyek pun telah memasuki tahap pertama dan kedua, dan ditargetkan tuntas pada akhir Februari hingga Maret mendatang.
“Pembangunan sudah masuk appraisal pertama dan kedua. Akhir Februari atau Maret ini diharapkan selesai seluruhnya,” ujar Nyanyang, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan SPPG di daerah 3T menggunakan skema pendanaan terukur dari investor dengan pencairan bertahap, yakni 60 persen di awal dan dua kali termin masing-masing 20 persen.
Nyanyang menegaskan, kehadiran SPPG sangat dinantikan masyarakat karena menjadi pintu masuk implementasi program MBG di wilayah yang selama ini sulit dijangkau layanan gizi.
“Kami terus berkoordinasi dengan Kepala BGN agar SPPG ini segera beroperasi. Masyarakat 3T sudah lama menunggu manfaat nyata program MBG,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Gizi wilayah Riau, Kepri, dan Sumbar, Syartiwidya, menilai kehadiran SPPG di titik terpencil menjadi solusi penting dalam pemerataan layanan gizi. Ia mendorong Satgas untuk segera mengajukan kembali lokasi-lokasi yang belum terlayani, khususnya wilayah dengan penerima manfaat di bawah 1.000 orang.












