Tanjungpinang, mejaredaksi – Wacana Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk mengganti mesin angkutan penambang kapal pompong di Pulau Penyengat dengan tenaga listrik menuai beragam tanggapan, terutama dari para penambang yang melayani wisatawan.
Para penambang mengkhawatirkan keterbatasan operasional kapal bermesin listrik. Menurut mereka, mesin ini hanya mampu digunakan beberapa jam, sehingga dinilai kurang efektif untuk aktivitas harian.
“Sebenarnya bagus-bagus saja. Namun pasti ada efeknya, karena tidak bisa berjalan jauh dan hanya beberapa jam saja (bisa digunakan),” ujar Ilyas, Wakil Kelompok Penambang Pompong Pulau Penyengat, Senin (2/12/2024).
Ilyas juga menyebut mayoritas penambang menolak rencana tersebut.
“(Mesin) pakai listrik sebenarnya bagus. Namun lebih banyak (penambang) yang menolak,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kepri, Junaidi, menyatakan bahwa wacana tersebut masih dalam tahap kajian. Pihaknya sedang menganalisis berbagai faktor, termasuk kondisi arus laut dan ombak di sekitar Pulau Penyengat.
“Ini masih dalam kajian. Karena harus dihitung dulu arus laut dan ombak (di Perairan Penyengat),” jelas Junaidi.
Rencananya, sebanyak 48 kapal pompong akan diubah menjadi bermesin listrik. Junaidi juga mengungkapkan bahwa teknologi serupa sudah diterapkan di beberapa daerah lain, meski umumnya digunakan di perairan yang lebih tenang seperti danau.
Kajian ini diharapkan memberikan hasil yang menguntungkan semua pihak, baik dari segi efisiensi energi maupun keberlanjutan operasional pompong sebagai moda transportasi ikonik di Pulau Penyengat.
Penulis: Ismail | Editor: Andri











