Tanjungpinang, mejaredaksi – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad menegaskan komitmennya mempercepat dua program prioritas nasional, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan eliminasi Tuberkulosis (TBC). Hal ini disampaikan dalam rapat tindak lanjut bersama perwakilan kabupaten/kota se-Kepri dan sejumlah kepala OPD di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Kamis (2/10/2025).
Gubernur Ansar Ahmad menekankan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden RI Prabowo Subianto.
“Presiden mengingatkan semua kepala daerah untuk turun langsung memastikan program berjalan baik. Di Kepri, kita akan memperkuat koordinasi lintas sektor agar eliminasi TBC 2030 tercapai dan MBG benar-benar dirasakan masyarakat,” jelas Ansar.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri M. Bisri mengingatkan, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah penderita TBC.
“TBC masih menjadi ancaman serius. Setiap tahun sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat penyakit ini. Karena itu, Kepri harus bekerja lebih keras agar target eliminasi tahun 2030 tercapai,” tegasnya.
Menurut Bisri, upaya deteksi dini akan diperkuat lewat skrining aktif maupun pasif. Teknologi medis seperti Tes Cepat Molekuler (TCM/GeneXpert), pemeriksaan dahak, hingga rontgen dada sudah digunakan.
September lalu, program ACF di Bintan dan Tanjungpinang berhasil menjaring lebih dari 1.000 orang, puluhan di antaranya terindikasi TBC.
Meski Tim Percepatan Penanggulangan TBC sudah dibentuk sejak 2022, kendala tetap ada, mulai dari keterbatasan cartridge TCM, mesin X-ray portable, hingga minimnya peran kader.
“Ke depan, kita akan menambah 5.000 cartridge TCM, memperkuat kapasitas kader, serta mewajibkan skrining TBC bagi ASN dan tenaga kerja setiap enam bulan,” ungkap Bisri.
Sementara itu, realisasi MBG di Kepri per 29 September 2025 mencapai 52,23 persen atau 333.282 penerima manfaat dari total target 638.047 orang.
Batam menjadi daerah dengan penerima terbanyak, diikuti Karimun dan Tanjungpinang. Tantangan terbesar ada di pulau-pulau kecil dengan 51.540 sasaran.
Kepala Dinas DKP2KH Kepri Rika Azmi mengungkapkan pihaknya sedang menyusun konsep dapur SPPG khusus pulau kecil. Namun, dua SPPG di Batam dan Karimun dihentikan sementara akibat dugaan keracunan.
“Prinsipnya, makanan yang diberikan harus sehat, aman, dan bergizi,” tegas Rika.












