Tanjungpinang, mejaredaksi – Pemerintah Kota Tanjungpinang tengah mempertimbangkan tawaran dari PLN untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar solar.
Tawaran ini dinilai berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meskipun ada kendala dalam volume sampah yang tersedia di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ganet.
Sekretaris Daerah Tanjungpinang, Zulhidayat, mengungkapkan bahwa PLN menawarkan kontrak pemenuhan kebutuhan hingga 250 liter solar per hari, namun saat ini Pemko hanya mampu memproduksi sekitar 10 liter.
“PLN menawarkan kontrak 250 liter solar per hari. Tapi, saat ini kita hanya mampu memproduksi 10 liter solar saja,” ujarnya, Sabtu (2/11/2024).
Ia menjelaskan, jumlah sampah yang masuk ke TPA Ganet saat ini masih terbatas, hanya sekitar 100 ton per hari, jauh dari jumlah yang dibutuhkan untuk menghasilkan 250 liter solar, yaitu sekitar 500 ton.
“Jadi kalau bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik minimal harus 500 ton per hari. Jadi itu masih terlalu jauh,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, Pemko berencana meningkatkan kapasitas produksi dengan mengajukan pengadaan mesin destilator di setiap bank sampah.
Selain itu, upaya kerja sama dengan PT Pegadaian melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) sedang dilakukan untuk menambah mesin destilator.
“Mesin destilator hanya satu milik DLH, tentu itu tidak cukup. Jadi kita ajukan mesin-mesin baru di setiap bank sampah,” tambah Zulhidayat.
Jika proyek ini dapat direalisasikan, potensi penambahan PAD dari produksi BBM berbasis sampah ini akan menjadi sumber pendapatan baru bagi Tanjungpinang.
Penulis: Ismail | Editor: Panca












