Sungguh aktivitas yang sangat menguras fisik dan kesabaran. Hal ini dirasa berat mengingat dilaksanakan di antara lelah dan rasa kantuk yang menyerang.

Hakikatnya, mabit di Musdalifah adalah untuk beristirahat. Tapi praktiknya tidak semudah itu. Dari 5 jam di tempat ini, istirahat total saya hitung tak lebih dua jam. Cukup untuk “tidur ayam”.
Saya meghitung, nyaris dua jam lebih jemaah berdiri di dalam barisan antrean. Itu pun setelah saya berinisiatif memasang muka tebal, memotong antrean, meminta prioritas karena membawa ibu yang lansia.
Singkatnya, setelah dua jam kami berada di bus. Muka-muka lelah jelas terlihat.

Sampai di Mina pun demikian. Sesampainya di sini, Jemaah disibukkan mencari tenda tempat menginap tiga malam kedepan. Satu jam lebih baru bisa meluruskan pinggang. (bersambung)
Baca juga: Wukuf di Arafah, Jemaah Tersesat oleh Bentuk Tenda yang Serupa
Penulis/Editor: Andri Mediansyah






