Feature

Rokok Seharga Enam Kali Lipat

Catatan Ibadah Haji 2023 (7)

    Seorang karyawan katering menghisap rokok saat di pemondokan jemaah haji di Mina, Mekkah, Arab Saudi. Selama musim haji, ada transaksi jual beli rokok merk Indonesia. Harganya bisa mencapai enam kali lipat harga di Indonesia. (Foto: Andri)

Jangan kaget jika ada yang menawarkan rokok ketika di Mekkah atau Madinah karena harganya bisa enam kali lipat dibanding di Indonesia.

Aturan memang memperbolehkan bagi jemaah haji maupun umroh membawa rokok ketika beribadah ke Tanah Suci.

Tapi masalahnya regulasi membatasi berapa banyaknya rokok yang boleh dibawa, yakni maksimal 200 batang atau 2 slop saja.

Bila lebih dari itu, maka bersiaplah koper Anda dibongkar petugas.

Tapi tidak sedikit jemaah haji Indonesia mengaku membawa lebih dari itu. Ada yang mengaku bawa empat slop, ada yang bahkan bawa 6 slop.

Kok bisa?

“Ya bisalah!” kata kawan jemaah haji Asal Indonesia yang bawa rokok 6 slop.

“Dua slop masuk koper saya. Dua slop lagi masuk koper istri. Dua slop lagi saya titip ke kawan jemaah yang tidak merokok,” katanya menjelaskan.

Oh oh oh.. pantas kawan jemaah ini nyaris tidak pernah putus mengepul asap dari mulutnya.

Tidak seperti teman lain yang sudah gusar bahkan belum genap di Mekkah.

Katanya dia cuma bawa satu slop. Stok rokoknya habis di hari kedua puluh. Terhitung nasih ada waktu setengah bulan lebih jika ditambah waktu mengerjakan ibadah sunah di Madinah. Kawan satu ini tergabung dalam kloter akhir. Artinya: 32 hari di Mekkah, 8 hari di Madinah.

Transaksi di Jendela Mobil

Seorang jemaah haji Indonesia sedang melakukan transaksi dengan seorang pengemudi mobil di depan sebuah hotel di kawasan Syisyah, Mekkah, Arab Saudi. Belakangan diketahui itu sebuah transaksi jual beli rokok. (Foto: Andri)

Para jemaah haji Indonesia yang menghuni Hotel Tarawat Al Taqwa mulai berduyun turun ketika sebuah mobil produksi China parkir di muka hotel di kawasan Syisyah, Kota Mekkah.

Mobil itu berhenti persis di muka para jamaah yang umumnya bercengkrama di deretan kursi sembari menghisap tembakau.

Malam di halaman hotel biasanya selalu ramai. Siang adalah waktu yang tidak memungkinkan untuk nongkrong dan merokok.

Suhu rata-rata 43 derajat selsius akan sangat cepat membuat kulit dan kerongkongan mengering. Suara dalam waktu singkat menjadi parau.

Dan pada malam di pekan kedua kami di Kota Mekkah, beberapa jemaah mendatangi mobil yang pengemudinya adalah orang Indonesia.

Mereka berbincang-bincang. Di awal mimik wajah keduanya serius, kemudian perlahan mencair.

Tak lama berselang, lelaki si pengemudi mengeluarkan bungkusan dari tas sandang.

Oh. Rupanya itu adalah sebuah transaksi.

Lelaki itu rupanya penjual rokok. Dari kemasannya, rokok yang ia jual sangat familiar. Rokok produksi Indonesia.

Pada malam itu, ada beberapa kali si lelaki meladeni pembeli yang tak lain jemaah haji.

Jemaah haji umumnya membeli lebih dari satu bungkus. Saya melihat ada yang bahkan membeli lima bungkus.

Saya menyimpulkan para jemaah yang membeli rokok kepada pria itu adalah mereka yang kehabisan “amunisi”.

Saya jadi teringat beberapa hari sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ketika seorang teman di Tanjungpinang yang berangkat di kloter awal meminta saya membawa rokok lebih.

“Jangan bawa satu slop. Bawa dua atau tiga,” katanya.

Dia memastikan 41 hari rata-rata jemaah berada di Kota Mekkah dan Madinah dalam musim haji akan membutuhkan lebih dari satu slop rokok.

Perokok pasti hapal berapa banyak batang dalam satu slopnya.

Jika dalam satu bungkus ada 12 batang, satu slop berarti 120 batang. Jika dua atau tiga slop, ya tinggal dikalikan saja.

Di awal ketibaan di Mekah, bisa dikata saya tidak banyak merokok. Tidak lebih hitungan jari tangan dalam sehari.

1 2Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close